PENDIDIKAN SAAT INI

Berkaca pada sistem yang berjalan di dunia pendidikan saat ini dirasa sangat memilukan. Mengapa demikian? Dilihat dari pelaksaan ujian nasional yang katanya berbasis CBT bisa menghasilkan keluaran yang bagus, terbukti peserta didiknya melakukan "otodidak" dalam mencapai nilainya. Kecurangan demi kecurangan merajahi pikiran mereka. Dimulai dari kerjasama yang mengindahkan pengawas hingga "transaksi" haram-pun dilakukan dengan mata terbuka. Ini dilakukan hanya untuk mendapatkan nilai genap. Sebenarnya mental mereka yang seperti ini bermula dari tercetusnya sistem yang tidak jelas ini. Akhirnya mereka berfikir instan untuk "membeli" saja benda haram itu. Jika pemerintah tidak mengubah sistem, mereka tidak akan mungkin tercurangi oleh sistem yang antah berantah tidak jelas keputusan baiknya di mana. Sekolah 3 tahun hanya ditentukan oleh ujian negara yang notabene keluarannya buruk. 
Selain itu jalur masuk perguruan tinggi. Jalur yang dibuat diantaranya SNMPTN, SBMPTN, MANDIRI. Tahapan pertama tidak bisa diikuti oleh seluruh peserta didik. Hanya peserta didik pilihan pusat dari 50% siswa di sekolah itulah yang boleh mengikuti. Atas dasar nilai rapor munculah beberapa siswa yang bisa mengikuti seleksi ini. Keadilan tentu tidak bisa dirasakan oleh siswa yang berprestasi di sekolah tetapi nilai rapor nya paspasan. Padahal siswa yang berprestasi telah menorehkan nama baik sekolahnya di kota lain bahkan di tingkat nasional. Apakah ini pembalasan yang setimpal dibandingkan mereka yang hanya duduk diam di dalam kelas menanti guru dan selalu berada di dalam kelas? Tentu saja tidak adil. Ini juga dirasakan oleh siswa yang menggeluti dunia organisasi. Mereka melakukan segala hal demi kebaikan sekolah mereka tetapi tidak ada kompensasi dari pihak sekolah untuk masa depan mereka. Mereka dibiarkan larut pada kelelahan yang kemudian diabaikan bahkan selalu dinilai negatif di mata guru mereka. Padahal apa yang mereka lakukan sudah lebih dari hebat seorang anak SMA yang hanya duduk diam di dalam kelas. 
Kemudian jalur masuk SBMPTN. Jalur ini dirasa menjadi jalur yang menguntungkan. Karena pada jalur ini seluruh pesertanya harus melakukan tes agar bisa lolos dan masuk di perguruan tinggi pilihan mereka. Akan tetapi lagi lagi kejadian memilukan tetap terjadi. Ada seorang siswa yang "katanya" mengikuti bimbel di suatu daerah. Entah bimbel apa yang ia masuki. Dia berani membayar banyak demi bisa tembus di perguruan tinggi negeri. Apa yang terjadi? Suap pun halal baginya. Rela membayar tinggi demi meloloskan diri mereka di perguruan tinggi negeri. Apakah sehina ini perguruan tinggi negeri? Menerima siswa dengan hanya modal bayar tanpa mengindahkan siswa yang memiliki kecerdasan akademis yang baik? Mungkin perguruan tinggi hanya ingin mendapatkan untung dan tidak ingin rugi atas apa yang ia lakukan. Tetapi mutu dari perguruan tinggi itu lambat laun akan semakin turun jika hal ini terus dilakukan. 
Lalu jalur mandiri. Astaga jalur ini juga tidak kalah hina. Setiap dosen dari suatu universitas ternyata telah membonceng satu bahkan tiga sanak sodaranya agar bisa masuk perguruan tinggi yang diinginkan. Entah aturan ini datang dari mana, tapi ini merugikan orang yang benar-benar pintar tapi secara financial kecil. Sudah berapa uang yang dikeluarkan mereka agar bisa masuk universitas tetapi pada akhirnya mereka kalah dengan yang seperti ini. Coba dihitung saja, setiap pendaftaran 300.000 rupiah, kalikan saja berapa orang yang mengikuti dan berapa kali dia mengikuti jalur mandiri. Astaga. Miris sekali. Apasih yang sebenarnya diinginkan pemerintah saat ini. Ingin generasi yang bermutu eh malah mendapatkan generasi yang instan. 
Belum lagi masalah penerimaan peserta didik baru saat ini. Memang sih maksudnya agar sama rasa sama rata. Tapi apakah ini adil jika berdasarkan nilai UN saja? Gila. Generasi instan kan sudah tercetak otomatis generasi yang masuk SMA saat ini juga sama instannya. Peredaran nilai bagus sudah pasti mereka lakukan jika iming-iming masuk SMA hanya dengan nilai UN. Lantas bagaimana nasib anak yang cerdas, berprestasi mengabdi pada SMP nya tetapi kalah dengan besarnya score yang didapat dari haram menjadi halal itu? Astaga. Kasihan SMA nya yang biasa mendapatkan bibit unggul menjadi mendapatkan bibit kisut. Mau dikembangkan seperti apa bibit kisut ini? Bibit kisut akan menjadi kisut. Tidak akan pernah menjadi bibit unggul. Jangan harap bibit kisut mampu bersaing dengan bibit unggul. Karena bibit unggul akan selalu berkembang menjadi kecambah dan tumbuh menjadi pohon, sedangkan biji kisut akan dorman bahkan mati. 
Jadi miris sekali kan generasi sekarang ini. Dituntut baik padahal sistem yang dibuat sangat amburadul tidak karuan. Menumbuhkan pemikiran instan dan bukan pemikiran yang kreatif inovativ. Kreatifitas menjadi mati dan terkubur sedalam-dalamnya di hati mereka. Vertikal dan horizontal merekapun tidak tumbuh. Malah semakin menurun seiring berjalannya waktu. Sepertinya dari pihak pendidik-pun perlu dilakukan pertobatan atau ruqyah alias mengingatkan mereka tentang kedekatan spiritual. Sebab, jika sistem yang berjalan tidak sesuai dengan spiritual maka yang terjadi ya seperti saat ini. Miris oh miris.




Pacitan, 5 Juli 2017
Padhepokan Nduk Na

Komentar

Postingan Populer