KESEIMBANGAN

Kalau berbicara masalah kesibukan tentu tidak akan ada habisnya di dunia ini. Semua orang pasti mengalami kesibukan yang luar biasa dalam hidupnya. Dimulai dari hal terkecil. Smart-phone. Setiap mata yang melihat layar pintar maka ia akan terkesima dan melupakan keadaan sekitarnya. Entah ada orang meninggal sekalipun ia mampu menipu daya pemiliknya untuk mengabadikan momen terlebih dahulu dan tidak mendokan jenazah yang baru saja meninggal. Ini merupakan salah satu fenomena sederhana tapi jika dilakukan merupakan suatu musibah yang tidak bisa dimaafkan dalam kode etik. Kesibukan yang lain misalnya adalah pekerjaan. Mahasiswa sekalipun yang telah berkecipung di dunia pekerjaan wajahnya nampak muram, kusut antah berantah. Fokus mereka terbagi antara tuntutan menyelesaikan kuliah dan pekerjaan yang terus menumpuk di setiap harinya. Entah dari meeting, pertemuan dengan direksi, perjalanan ke luar negeri atau naik pangkat. Memang hasil yang diperoleh dari magang ini bisa digunakan dalam membantu finansial setiap mahasiswa yang melakukannya. Akan tetapi secara batiniah apakah mereka bahagia? Entahlah. Sebenarnya kesibukan yang paling sibuk adalah mengurus rumah tangga. Why? Karena dari pagi sampai pagi lagi seorang ibu rumah tangga sudah sepenuhnya ada untuk keluarga. Ia menyiapkan segalanya untuk suami dan anak-anaknya. Mulai dari sarapan, sepatu, seragam, tas, kebersihan rumah, makan malam, cucian, tanaman dan lain sebagainya. Betapa hebatnya seorang ibu rumah tangga ketika seluruh hal yang ia perjuangkan mampu menerima segala hal yang ia lakukan dengan baik. 
Akan tetapi, setiap kesibukan yang saya contohkan seperti yang diatas bukanlah segala galanya untuk hidup kita. Diibaratkan saja bahwa seluruh kesibukan di dunia ini adalah garis horizontal. Garis horizontal memiliki arah ke kanan dan ke kiri. Jika kita menelentangkan tangan dan menghadapkan telapak tangan ke arah atas maka seraya-nya keduanya adalah beban dalam hidup ini. Beban yang muncul dari seluruh kesibukan kita. Semakin lama jika beban yang diampu semakin banyak maka semakin berat pula kanan dan kiri tubuh kita. Keseimbangan lambat laun akan menghilang. Kekuatan diri kita yang semula seperti seorang Gathotkaca berubah menjadi seperti lansia. Wajah masih muda namun tubuh seolah seperti lansia yang tidak kuat berbuat apa-apa. Lantas apakah hal seperti ini akan terus merajahi diri kita? Tidak. Kesalahan ini ada pada diri kita. Kita lupa memasang garis vertikal disaat kita menerima garis horinzontal dalam hidup kita. Apakah sebenarnya garis vertikal ini? Kesannya seperti absurd. Tapi sebenarnya tidak dan bukan absud. Garis vertikal yang saya maksudkan adalah garis lurus kepada Tuhan YME. Mengapa demikian? Karena garis yang tegak dan lurus adalah garis yang kuat dan tidak akan pernah goyah jika kita percaya kepada Tuhan. Tuhanlah yang Maha Segalanya. Tuhanlah yang menuntun kita kepada kebenaran. Maka jika diimplementasikan kita harus selalu mengingat Tuhan. Tuhan selalu berada diatas kita dan melihat seluruh tingkah kita yang selalu bangga dengan dosa-dosa. 
Jika garis horizontal dan vertikal ini disatukan maka akan membentuk garis miring diantara keduanya. Ini berarti beban yang kita bawa pada horizontal hidup kita akan lebih diringankan oleh garis vertikal yang kita imani. Gambarannya seperti ini. Misalkan beban horizontal kita mengarah ke bawah, otomatis tangan kita akan terasa berat. Tetapi apabila kita mengingat Tuhan-secara vertikal maka tangan kita yang sebelumnya berat karena beban yang mengarah ke bawah akan terasa ringan karena ditarik perlahan oleh bantuan garis penyambung antara vertikal dan horizontal. Dimanakah kita bisa mendapatkan garis penyambung ini? Jawabnya adalah dari setiap doa imanmu kepada Tuhan.  
Namun, jika engkau tidak vertikal maka yang terjadi adalah garis negatif. Dalam garis bilangan matematika jika vertikal kebawah adalah bernilai negatif. Maka yang terjadi adalah beban kita semakin besar dan menjamur dalam kehidupan. Mengapa demikian? Beban di kedua tangan yang semakin mengarah ke bawah pastilah menuntun kita untuk terus turun dan tersungkur karenanya. Oleh karena itu segala hal negatif mampu meracuni pemikiran kita ketika tengah berada di posisi ini. Istilahnya semakin kita jauh dari Tuhan semakin banyak hal-hal negatif yang datang ke dalam hidup kita. 
Maka untuk rekan-rekan semua, sangat disarankan bahwa sesibuk apapun kalian jangan pernah melupakan Tuhan. Ingatlah Tuhan dimanapun kalian berada. Tuhan akan membantu disetiap kalian berdoa, berdzikir dan mengingatnya. Jangan tertipudaya oleh kesibukan dunia kalian. Vertikal dan horizontal itu perlu. 



Pacitan, 4 Juli 2017
Padhepokan Nduk Na

Komentar

Postingan Populer