KAU ADALAH AKU YANG LAIN

Sebenarnya apa yang aku maksud adalah potret manusia pada umumnya. Se umum-umumnya manusia. Kau sebenarnya sama denganmu. Begitu juga aku sama denganmu. Apa yang kau makan, minum, lakukan, kenakan, kendarai, tempati dan lain sebagainya adalah sama denganku. Hanya yang membedakan antara aku dan kamu adalah bagaimana kita memperoleh dan melakukan berbagai hal. Hal lain yang membedakan kita hanyalah kelahiran. Bagaimana dan seperti apa kita dilahirkan. Entah dari latar belakang yang mana, belahan bumi mana, keyakinan yang dibawa ayah-bunda yang kemudian diwariskan kepada kita. 
Kau sebenarnya sama denganku. Sama-sama hidup dan menetap di suatu wilayah. Hal yang membedakan adalah financial dari ayah-bunda yang mengantarkan kita untuk menetap dimana dengan keadaan seperti apa. Kita sebenarnya tidak bisa apa-apa tanpa ayah-bunda. Karena setiap hal yang kita kehendaki selalu berdasarkan kemampuan ayah-bunda. Kita terlahir dengan kesempurnaan yang diberikan Tuhan. Entah seperti apa warna kulit kita, warna mata kita, kita tidak pernah bisa membuat itu karena kesemuanya adalah kehendak Tuhan. Jika Tuhan berkehendak maka jadilah. Ya inilah diri kita, tergantung dari ayah-bunda. Tidak berdiri dengan sendirinya. Ada yang beraliran darah biru. Itu memang dia berasal dari keturunan yang agung dan tidak bisa dipungkiri lagi, dia hanya mengikuti ayah-bunda. Hidup juga harus berdampingan bukan? Seperti mendapatkan seorang kekasih hati, kita juga harus bisa mendapatkan teman dari lingkungan yang berbeda. Akan tetapi perbedaan ini bukanlah perbedaan yang dipermasalahkan. Toh kita sama saja berasal dari ayah-bunda. Hanya saja jarang ada orang yang berfikiran seperti ini serta tidak menyadari darimana ia berasal dan dia hanyalah titipan dari Tuhan yang dibesarkan oleh ayah-bunda. Banyak diantara kita yang membeda-bedakan karena kasta, keyakinan, prinsip. Sering terjadi cemooh-an dan mengatakan bahwa "aku" lah yang terbaik diantara semuanya. Padahal ini salah. Toh kita belum bisa berdiri sendiri. Masih bergantung ayah-bunda kenapa sombong sekali mengatakan "ini lho aku". Padahal sebenarnya Tuhan-lah yang menempatkan kita diposisi yang Ia kehendaki. Tidak seharusnya kita menyombongkan diri. 
Coba dibayangkan saja jika posisi "kau" berubah menjadi "aku". Misalnya saja "kau" adalah orang kaya yang selalu terpenuhi segala kebutuhannya. Tidak pernah merasa kurang dalam hidupnya alias selalu sempurna dalam mendapatkan segala sesuatunya. Sedangkan "aku" adalah orang yang berasal dari kelurga kurang mampu. Coba jika kedua posisi ini dibalik. Apakah si kaya mau menerima? Otomatis tidak akan mau karena dia sombong dengan apa yang telah ia ampu semasa ia hidup. Tapi coba dibayangkan saja jika orang kaya ini mengimplementasikan bagaimana hidup susah, semua serba sulit, dilakukan seorang diri, bagaimana rasanya dimaki-maki dalam setiap kali mencari sebuah pekerjaan, bagaimana rasanya sakit hati ketika masakan yang diberikan ditolak mentah-mentah seperti itu misalnya. Seluruh manusia pasti akan memiliki toleransi yang tinggi. Akan tetapi jarang sekali orang yang mau berfikir seperti demikian. Entah apa yang mereka pikirkan yang pasti mereka telah teracuni oleh pemikiran apatis dan serba instan. 
Toh sebenarnya kita itu sama saja. Sama-sama manusia dan hidup di dunia ini. Harusnya sesama manusia memiliki toleransi yang tinggi terhadap sesamanya. Ada musibah seharusnya dibantu bukan malah difoto dan di upload di media sosial. Ini fenomena yang sangat memilukan. Setiap orang memiliki nasib yang berbeda dan ini telah dituliskan oleh Tuhan. Bagi yang mampu tolonglah sedekahkan untuk yang kurang beruntung. Untuk yang kurang beruntung tetaplah mencari rezeki yang halal untuk anak cucu. Kalau misalnya seluruh dunia berisi orang kaya saja tidak akan pernah ada keseimbangan. Tidak akan pernah ada hitam dan putih, tidak akan pernah ada kanan dan kiri. Kanan dan kiri ini jika sama-sama mengingat Tuhan secara vertikal maka yang terjadi adalah keseimbangan dan kesinambungan diantara keduanya. 
Jadi, sebagai manusia yang beradab jangan pernah membeda-bedakan manusia dengan manusia. Semuanya sama. Yang membedakan adalah bagaimana ia dilahirkan. Dari latar belakang yang mana adalah bawaan dari ayah-bunda. 





Pacitan, 6 Juli 2017
Padhepokan Nduk Na

Komentar

Postingan Populer