Serial Sakral Jejak Tanah

Hujan deras terus menghempas.
Dinding-dinding tua pada rumah tak berbelas. Terlukis sebuah asa. Meraung senja.
Ditemani goncangan angin puyuh.
Meniup peluh yang tersirat menyekat rindu.
Rindu hampir membatu. Karna sebuah bayang remang.
Yang terus membayang mengembang seperti kembang. Hampir layu kiranya.
Mirip kamboja putih, pelan melayang pada haribaan.
.
Tergambar jelas putih. Tapi tak seputih kasih ibu.
Sekiranya ia belai lantai. Namun tak kasat mata.
Dari gundukan malam,
yang kelam bak lilin hampir padam.
Nan terus menikam kala kalam tolak kisah jenazah bapak.
Terpelanting dan terbanting dalam peluk angin malam.
Katanya malam jahanam untukmu : bapak.


Kain kafan putih tak lagi bersih.
Berjalan tertatih.
Menitih derita kala muda.
Katanya jadi penikam tanah orang.
Katanya juga jadi penjarah hak milik orang mati.
.
Oh bintang malam..
Jangan kelamkan ia..
Jangan biarkan mentari mengusik bapak hingga ia menjadi debu..


Padhepokan Kwarasan, 15 Februari 2014
karya : Hasna RS (Senandung Senja)


Dari Cerpen "Jejak Tanah" :)

Komentar

Postingan Populer