Cerpen Kerinduan


SEBAIT RINDU

Karya : Hasna Rafida Sari

 

            Lembar demi lembar ini tak hanya sebatas benda bagiku. Ia kawan, sahabat, tempatku menuliskan apa yang tak bisa kuucap. Seorang perempuan, memang harus terus belajar dan haus akan ilmu. Sudah terlalu lama arloji pekat ini meleleh ditanganku. Sembari kulamunkan apa yang kan kulakukan selanjutnya. Tatkala, lidah ini memberi kesaksian bahwa kuharus temui ibu. Tapi, selalu saja getaran tangan ini menghantui niatku.

            “Halo.. Halo..” suaraku terlalu mengharap jawaban ibu. Kutahu, jam terbang beliau di sana memang padat. Kini aku terperangkap dalam rekaat panjang dalam zikir, dalam takafur yang hampa. Mengharapkan sebuah hal yang sekiranya merobohkan kegelisahanku.

            Selang siang, siang menggulung sore, sore digulung malam dan malam digulung Subuh. Begitu setiap harinya. Terkadang dengan diam, kubisikkan pesan rindu pada ibu. Lewat angin senja dan angin harapan. Tiba-tiba lamunanku terpecah. Terdengar seseorang mengetuk pintu. Namun enggan kubuka. Kutakut itu hanyalah ilusi suara. Namun, makinlama suara itu makin jelas. Sedekat mungkin dengan kulit lusuh ini. Makin lama suara itu menjadi ganas. Seperti akan menerkamku. Tubuh mungil ini berpindah memojok di sudut dipan. Menahan sakitnya kepala ini mendengar suara itu. Ketakutan menjadi-jadi. Ada suara sebising gasing di telinga, sekeliling. Tak bisa dihentikan. Arak-arakan kegelapan seperti membelai tubuh ini, hingga pada akhirnya kuteriakkan emosi ini dengan lantang.

            Mencoba beranjak dari dipan. Meraih gagang pintu yang rasanya mirip raih harapan. Jauh, tapi ada. Perlahan kubuka. Mendekatkan wajah pada daun pintu. Tanpa sengaja tangan ini membuka gagangnya. Terkejut dengan sendiri. Panik. Namun, tidak ada orang di luar. Ketakutanku terhenti. Ketika kulirik sepucuk kertas. Baunya seperti surat. Dan ternyata benar. Kuharap itu adalah surat ibu. Disitu tertulis alamat pengirim dan lain sebagainya. Namun, bukan dari ibu. Melainkan dari Jurnal Sajak. Aku tak pernah tau menau tentang hal ini. Tapi, di lembar itu tertera namaku, “Selowati Dian Maryani” tuk ikuti lomba baca sajak. Ini kali pertama kuikuti lomba tanpa dampingan seorang ibu. Kudiam tanpa sua. Membisu seribu bahasa.

***

            Kunyatakan pada lembarku, tentang kerinduan dan permulaan karir yang tak padu. Sebenarnya tak ada pengakhiran bagi keadaan duka-cita. Batin, pikirku gusar. Namun, kuharus jelajahi sajak itu agar imaji ini membumbung tinggi dalam dunia ideal dan mengapung pada layar monitor LED. Namun, di kertas usang ini aku menjadi tawanan dari kegelapan. Disekapnya dengan kerinduan dan segala ketakutan. Mengutak-atik handphone tuk telepon ibu, alhasil sama saja. Cuma suara wanita dengan nada lembut dan penuh maaf “Maaf, nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Mohon periksa kembali nomor tujuan anda. The number you’re calling.........” sungguh menyayat hati. Padahal tak kurang dari satu minggu pembacaan sajak itu dilaksanakan. Belum pamit pada ibu, dan harus melancong seorang diri dengan Aneka Jaya. Tak cukup uang tuk naik Garuda.

            Ibu. Masih sukar dihubungi. Entah pada hari, bulan dan tahun keberapa, bening diujung putihnya seperti melati. Yang tak akan tebang pilih tebar wewangi. Sesebal apa hati ini, namun tebar wewanginya mampu menghela cengkeraman doa yang beringas. Lalu, perlahan mata ini sayu menghela napas pilu, kirimi ibu sebuah pesan suara. Entah dibukanya atau tidak, yang jelas selalu kukaabarkan sebagai doa.

***

            Pandangku terus menerawang jauh. Mau apa aku di sana? Seorang diri? Batinku kisruh. Tentu aku bosan padanya—baca syair dan enggan memandang. Kubiarkan mulut-mulut kecil itu menggonggong. Kubiarkan mata hantu itu. Hingga pada akhirnya ku terjerembab dalam kebingungan. Tak tahu arah. Melihat tempat baru, berkenalan dengan orang-orang baru, penyesuaian budaya, juga ilmu yang tak bisa didapat dengan berdiam diri di daerah sendiri.

            Tujuanku hanya cari ilmu. Tapi, kukira ini perlombaan abal-abal. Sepi kanan kiri. Taman Mini menjadi sunyi. Aku berbincang dengan perantau ilmu lainnya. Ia bilang tempat inilah lokasi lomba. Namun, masih saja tak kutemui seorang panitia. Tak bisa kubayangkan jauh-jauh kudatang dari desa yang sungguh desa, mengkaji lomba ini. Namun sepertinya lomba ini hanya ilusi.

            “Terlalu syugul! Bagaimana bisa aku tertipu dengan lomba metafora gila ini? Merantau jauh seorang diri, tak berkawan. Tak ada bukti realis dari situasi ini!” suara lantangku keluar begitu saja dari mulut yang sengaja dari tadi tertutup karna amarah.

            Pikiranku terisi, tapi hatiku kosong. Wajah kusut. Mengabaikan matahari yang susut. Dengan pendar cahyanya yang surut, membawa bayang diri hilang tak seiring jalan. Ibu. Iya, aku butuh ibu. Hanya dia penenangku dikala kubutuh ramuan sari cintanya. Tak lama, seorang setengah baya dengan baju oranye seperti penyapu jalan datang menemuiku. Berjalan bijak. Ia bicara pelan dan santun.

            “Nak, maaf sebelumnya. Anda peserta lomba sajak itu bukan?”

            “Iya. Dan di mana panitianya Pak. Mengapa kok sudah jam segini belum ada yang hadir juga.”

Lalu, pak tua itu tertawa geli diatas penatku.

            “Maaf Nak. Tapi lokasi lombanya direlokasi ke Taman Ismail Marzuki. Taman Mini sudah dikosongkan dari dua hari yang lalu Nak. Coba anda baca tulisan relokasi di sebelah barat itu. Sudah tertera bukan?”

Aduh. Malu dan sungguh malu yang kurasa. Pernyataan itu membuatku terkutung kelu. Dan makin lama muka ini terlipat layaknya origami.

***

            Kini aku tak seperti yang tampak padaku. Yang terlihat hanyalah pakaian yang kukenakan—sehelai pakaian yang ditenun dengan baik—yang melindungiku dari pertanyaan-pertanyaan konyol mereka dan melindungiku dari segala kesembronoanku. Saat ini aku berproses menaiki panggung dengan keindahan metafora sajakku. Kupandangi wajah-wajah itu, tak lama keadaan ruang ini gelap. Dan hanya ada satu lighting  yang melirikkan matanya padaku. Seperti mengajak, mengerahkan gerak baca padaku. Seluruhnya hening. Menyimak jelas lafalku. Dan mataku hanya bisa membiaskan bayangan ibu.

***

            Terdengar lantunan nada “halo”. Seketika melerai rasa ini. Kupikir aku tak pernah mendapati telepon darinya. Semenjak beberapa tahun silam terpisah karna sebuah percecokan mereka. Tak kusangka. Di seberang sana ada seorang perempuan tegap, berdiri menopang telepon. Entah siapa. Makin lama suara kaki itu semakin dekat. Begitupun degup jantungku berdebar tak beraturan. Menjadi dinamika lagu penghantar sebuah kesaksian. Ia bicara seperti yang persis ada di teleponku. Tangan ini mendingin. Gemetar. Hingga kepanikan muncul dengan sebegitu kuatnya sampai telepon ini kubanting. Kuinjak. Dan kututup telingaku. Kupikir itu adalah sebuah kegelapan yang menyekapku. Semakin dekat. Telinga ini seperti dibisiki suara-suara goib. Tiba-tiba ada dua tangan yang mendekapku. Ia berkata

            “Nak..”

Sambil memelukku erat. Seketika air mataku luruh. Gelimang tawa rindu dari kami berdua. Ketakutan itu, ialah sebuah kerinduan batin. Betapa pentingnya seorang ibu, hingga sebuah syairku terlantun untuk perempuan semulia itu. Aku tak ingin membiarkan pedang waktu menebas perlahan kesempatan temu rindu dan karirku.

***

            Ku coba tutup mata, mendengar desir angin malam bersama pengumuman. Dalam dekapan ibu, aku berdizikir. Dan tak disangka namaku disebut di angka dua puluh dari dua ratus lima puluh dua peserta. Sungguh karunia yang luar biasa berkat ibu, kerinduan dan usahaku. Aku terus bertanya pada kertas usangku. Apa yang akan terjadi berikutnya? Apakah
aku disatukan dengan karir? Atau ibuku?

Komentar

Postingan Populer